BERITA
KU SEGARKAN JIWAMU
16/Feb/2024
Oleh: Brigida Inda Purwara Ingrum, S.Pd
(Guru BK Unit SMP)
Tapak langkah kaki, melangkah dengan semangat. Pada raganya melekat seragam batik anggur hijau. Lenggang tangan mengayunkan sanubari. Mengiringi jiwa pendidik menuju tempat permenungan. Bersama pendamping rohani mereka menyegarkan kembali jiwa. Menggali mutiara dalam diri melalui rekoleksi bersama.
Dua Februari menjadi momentum sungguh berharga. Kami yang berada di bawah naungan kongregasi suster Sang Timur, selalu diajak bergembira merayakan hari jadi Sang Timur. Di hari jadi Kongregasi Sang Timur ke 180 tahun segenap pegawai Sang Timur komunitas di Jakarta, yang terdiri dari guru, karyawan setiap unit juga karyawan dari Yayasan mendapat penyegaran dari mutiara dalam diri pendiri Kongregasi Sang Timur, Beata Clara Fey.

Diawali dengan Ibadat Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Ginting, O.Carm, serangkaian Perayaan hari jadi Sang Timur dilaksanakan. Dilanjutkan pemberian penghargaan kepada Ibu Ninik Wulandari guru unit SMP yang telah setia mengabdi selama 25 tahun di Yayasan Sang Timur. Pertemuan guru karyawan menjadi pertemuan untuk menjalin persaudaraan sekaligus dapat mengenal satu dengan yang lain. Terutama guru dan karyawan baru. Pertemuan kami diperdalam kembali dengan rekoleksi guru karyawan TK, SD, SMP, SMA Yayasan Perwakilan Kompleks Tomang.
Setiap tanggal dua Februari menjadi hari bersejarah bagi guru karyawan yang telah mengabdi selama 25 tahun di Sang Timur, karena pada tanggal tersebut Yayasan Karya Sang Timur memberikan penghargaan kepada guru dan karyawan yang telah setia mengabdi hingga 25 tahun. Tentunya setiap guru yang telah mendapat penghargaan juga akan mengenang peristiwa sejarah pemberian penghargaan kesetiaan pengabdiannya.

Bersyukur bisa mencapai hingga 25 tahun mengabdi di Yayasan Karya Sang Timur. Mengapa bisa bertahan hingga selama itu? Yayasan pun terus mengupayakan untuk memberikan pendalaman iman dan pengolahan rohani yang didasarkan dari pengalaman hidup dan spiritual dari pendiri Sang Timur, Bunda Clara Fey.
Ketika melihat teman mendapat penghargaan setelah mengabdi selama 25 tahun, ada pertanyaan menggelitik dalam diri, apakah diriku sampai di posisi itu? Bagaimana posisi itu dapat dilewati? Jawabannya dengan menyimak penjelasan dari materi pendampingan yang disampaikan oleh Sr Xaveria, PIJ.

Rekoleksi di saat merayakan hari jadi Sang Timur ke 180 tahun, disajikan oleh Sr Xaveria, PIJ. Kami peserta rekoleksi diberikan informasi sejarah singkat Sang Timur dilanjutkan dengan pendalaman spiritualitas Sang Timur. Dalam suasana kebersamaan, hati kami dibawa masuk ruang permenungan. Jiwa gembira menjadi landasan kami masuk setiap sanubari diri peserta. Kebersamaan dan susana gembira seakan menjadi ringan untuk menghayati Spiritual Sang Timur. Sr Xaveria juga menjelaskan dengan keibuan dan membawa suasana jiwa kami untuk mampu masuk lebih mendasar dalam diri kami. Sesi surat dari Ibu Clara Fey menjadi moment menyentil hati dan perasaan kami. Kami membaca surat dari Ibu Clara Fey dilanjutkan dengan menulis tanggapan surat. Tanggapan surat kami diskusikan bersama dengan teman satu kelompok. Dari sharing tersebut kami diarahkan tetap bekerja sama dengan kelompok membuat doa, pantun atau puisi. Tema masih dalam menghayati Spiritual Sang Timur dengan dibalut ketulusan hati. Hal ini mengenang kembali penghayatan Bunda Clara Fey. Ternyata dari tampilan kerja kelompok, kami dihibur dengan tampilan doa, pantun puisi, gerak dan lagu dari setiap kelompok. Sungguh kebersamaan dalam kegembiraan membawa suasana ruangan aula SMA Sang Timur menjadi hangat dan rasa kekeluargaan semakin melekat.
Lalu sebetulnya apa sih Spiritualitas Sang Timur? Mengenal Bunda Clara Fey tidak bisa begitu saja, namun kita perlu tahu siapa Bunda Clara Fey dan bagaimana sepak terjang beliau hingga berhasil mendirikan Sang Timur. Apalagi sampai menjadi Beata Clara Fey.
Remaja cantik dari keluarga bangsawan, menjatuhkan hati dan dirinya kepada pilihan memperhatikan anak-anak Jerman pada masa kehidupan susah dan dalam situasi perbudakan. Beliau adalah Clara Fey. Kondisi perbudakan pada anak-anak menggugah jiwanya untuk merangkul anak-anak. Jiwa penuh dengan cinta melahirkan komunitas Suster Sang Timur di Konistrasse Aachen. Tepatnya pada 2 Februari 1844.

Bunda Clara Fey seorang pribadi dipenuh dengan doa dan refleksi. Kecerdasan spiritualnya selalu ditulis dalam keseharian hidupnya. Dari permenungan refleksi beliau, melahirkan spiritulitas untuk komunitas Sang Timur. Mengambil dari kutipan Yohanes 15:5, “Barang siapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak”. Dalam Bahasa Latin: Manate In Me. Kutipan ini dihidupi menjadi tujuan sumber hidup. Tujuan sumber hidup atau Visi Sang Timur tak hanya untuk para suster. Namun juga guru dan karyawan, serta siswa bersama keluarganya.
Nilai dalam spiritual Manete In Me, oleh Bunda Clara Fey dihayati dalam nilai kegembiraan, kesederhanaan dan kasih persaudaraan. Tiga hal ini menjadi budaya Sang Timur dalam setiap gerak nafas dan karya suster Sang Timur. Maka kami sebagai guru dan karyawan diajak untuk mewujudkan visi tersebut dengan kehidupan di sekolah, dengan nilai yang telah dihidupi pula di sekolah, yaitu Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun, Sabar, Semangat, Syukur dan Suka Cita. Harapannya dengan nilai-nilai ini dikembangkan di sekolah diselimuti pula dengan kegembiraan, kesederhanaan dan kasih persaudaraan, hingga menghantar siswa kepada Yesus.

Sungguh menyentuh dan menggugah hati materi rekoleksi dihayati dan dilaksanakan. Maka kita sebagai pendidik dan tenaga kependidikan di Sang Timur disadarkan untuk melakukan tugas Pendidikan dengan landasan Manete In Me, agar kita dapat menghantar siswa kepada Yesus.
Terima kasih Beata Clara Fey, engkau telah mengenalkan mutiara kehidupanmu ke dalam diri suster Sang Timur, bapak ibu pendidik dan tenaga kependidikan Sang Timur. Semoga karyamu yang mulia ini menjadi terus harum berjaya dan bercahaya. Hingga terwujud menghantar anak-anak kepada Yesus.

Kepada Sr Xaveria, PIJ kami juga haturkan terima kasih, karena sentuhan kasih secara langsung kepada kami, dalam waktu singkat kami telah dibawa pada jiwa Bunda Clara Fey. Menyelami Mutiara Bunda Clara Fey semoga dapat menguatkan kami guru-guru yang baru saja masuk dalam keluarga Sang Timur. Untuk kami yang sudah melangkah separoh dari perjalanan kami bergabung di Sang Timur, kami tetap dihibur, diberikan pengharapan dan dikuatkan hingga panjang usia kesetiaan kami pada Sang Timur. Untuk kami yang sudah mendapat pengghargaan 25 tahun mengabdi, semoga kami dapat menjadi role model bagi teman-teman kami, menyemangati teman-teman yang masih muda untuk setia pada Sang Timur.
Tangerang, 4 Februari 2024
Tapak langkah kaki, melangkah dengan semangat. Pada raganya melekat seragam batik anggur hijau. Lenggang tangan mengayunkan sanubari. Mengiringi jiwa pendidik menuju tempat permenungan. Bersama pendamping rohani mereka menyegarkan kembali jiwa. Menggali mutiara dalam diri melalui rekoleksi bersama.
Dua Februari menjadi momentum sungguh berharga. Kami yang berada di bawah naungan kongregasi suster Sang Timur, selalu diajak bergembira merayakan hari jadi Sang Timur. Di hari jadi Kongregasi Sang Timur ke 180 tahun segenap pegawai Sang Timur komunitas di Jakarta, yang terdiri dari guru, karyawan setiap unit juga karyawan dari Yayasan mendapat penyegaran dari mutiara dalam diri pendiri Kongregasi Sang Timur, Beata Clara Fey.

Diawali dengan Ibadat Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Ginting, O.Carm, serangkaian Perayaan hari jadi Sang Timur dilaksanakan. Dilanjutkan pemberian penghargaan kepada Ibu Ninik Wulandari guru unit SMP yang telah setia mengabdi selama 25 tahun di Yayasan Sang Timur. Pertemuan guru karyawan menjadi pertemuan untuk menjalin persaudaraan sekaligus dapat mengenal satu dengan yang lain. Terutama guru dan karyawan baru. Pertemuan kami diperdalam kembali dengan rekoleksi guru karyawan TK, SD, SMP, SMA Yayasan Perwakilan Kompleks Tomang.
Setiap tanggal dua Februari menjadi hari bersejarah bagi guru karyawan yang telah mengabdi selama 25 tahun di Sang Timur, karena pada tanggal tersebut Yayasan Karya Sang Timur memberikan penghargaan kepada guru dan karyawan yang telah setia mengabdi hingga 25 tahun. Tentunya setiap guru yang telah mendapat penghargaan juga akan mengenang peristiwa sejarah pemberian penghargaan kesetiaan pengabdiannya.

Bersyukur bisa mencapai hingga 25 tahun mengabdi di Yayasan Karya Sang Timur. Mengapa bisa bertahan hingga selama itu? Yayasan pun terus mengupayakan untuk memberikan pendalaman iman dan pengolahan rohani yang didasarkan dari pengalaman hidup dan spiritual dari pendiri Sang Timur, Bunda Clara Fey.
Ketika melihat teman mendapat penghargaan setelah mengabdi selama 25 tahun, ada pertanyaan menggelitik dalam diri, apakah diriku sampai di posisi itu? Bagaimana posisi itu dapat dilewati? Jawabannya dengan menyimak penjelasan dari materi pendampingan yang disampaikan oleh Sr Xaveria, PIJ.

Rekoleksi di saat merayakan hari jadi Sang Timur ke 180 tahun, disajikan oleh Sr Xaveria, PIJ. Kami peserta rekoleksi diberikan informasi sejarah singkat Sang Timur dilanjutkan dengan pendalaman spiritualitas Sang Timur. Dalam suasana kebersamaan, hati kami dibawa masuk ruang permenungan. Jiwa gembira menjadi landasan kami masuk setiap sanubari diri peserta. Kebersamaan dan susana gembira seakan menjadi ringan untuk menghayati Spiritual Sang Timur. Sr Xaveria juga menjelaskan dengan keibuan dan membawa suasana jiwa kami untuk mampu masuk lebih mendasar dalam diri kami. Sesi surat dari Ibu Clara Fey menjadi moment menyentil hati dan perasaan kami. Kami membaca surat dari Ibu Clara Fey dilanjutkan dengan menulis tanggapan surat. Tanggapan surat kami diskusikan bersama dengan teman satu kelompok. Dari sharing tersebut kami diarahkan tetap bekerja sama dengan kelompok membuat doa, pantun atau puisi. Tema masih dalam menghayati Spiritual Sang Timur dengan dibalut ketulusan hati. Hal ini mengenang kembali penghayatan Bunda Clara Fey. Ternyata dari tampilan kerja kelompok, kami dihibur dengan tampilan doa, pantun puisi, gerak dan lagu dari setiap kelompok. Sungguh kebersamaan dalam kegembiraan membawa suasana ruangan aula SMA Sang Timur menjadi hangat dan rasa kekeluargaan semakin melekat.
Lalu sebetulnya apa sih Spiritualitas Sang Timur? Mengenal Bunda Clara Fey tidak bisa begitu saja, namun kita perlu tahu siapa Bunda Clara Fey dan bagaimana sepak terjang beliau hingga berhasil mendirikan Sang Timur. Apalagi sampai menjadi Beata Clara Fey.
Remaja cantik dari keluarga bangsawan, menjatuhkan hati dan dirinya kepada pilihan memperhatikan anak-anak Jerman pada masa kehidupan susah dan dalam situasi perbudakan. Beliau adalah Clara Fey. Kondisi perbudakan pada anak-anak menggugah jiwanya untuk merangkul anak-anak. Jiwa penuh dengan cinta melahirkan komunitas Suster Sang Timur di Konistrasse Aachen. Tepatnya pada 2 Februari 1844.

Bunda Clara Fey seorang pribadi dipenuh dengan doa dan refleksi. Kecerdasan spiritualnya selalu ditulis dalam keseharian hidupnya. Dari permenungan refleksi beliau, melahirkan spiritulitas untuk komunitas Sang Timur. Mengambil dari kutipan Yohanes 15:5, “Barang siapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak”. Dalam Bahasa Latin: Manate In Me. Kutipan ini dihidupi menjadi tujuan sumber hidup. Tujuan sumber hidup atau Visi Sang Timur tak hanya untuk para suster. Namun juga guru dan karyawan, serta siswa bersama keluarganya.
Nilai dalam spiritual Manete In Me, oleh Bunda Clara Fey dihayati dalam nilai kegembiraan, kesederhanaan dan kasih persaudaraan. Tiga hal ini menjadi budaya Sang Timur dalam setiap gerak nafas dan karya suster Sang Timur. Maka kami sebagai guru dan karyawan diajak untuk mewujudkan visi tersebut dengan kehidupan di sekolah, dengan nilai yang telah dihidupi pula di sekolah, yaitu Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun, Sabar, Semangat, Syukur dan Suka Cita. Harapannya dengan nilai-nilai ini dikembangkan di sekolah diselimuti pula dengan kegembiraan, kesederhanaan dan kasih persaudaraan, hingga menghantar siswa kepada Yesus.

Sungguh menyentuh dan menggugah hati materi rekoleksi dihayati dan dilaksanakan. Maka kita sebagai pendidik dan tenaga kependidikan di Sang Timur disadarkan untuk melakukan tugas Pendidikan dengan landasan Manete In Me, agar kita dapat menghantar siswa kepada Yesus.
Terima kasih Beata Clara Fey, engkau telah mengenalkan mutiara kehidupanmu ke dalam diri suster Sang Timur, bapak ibu pendidik dan tenaga kependidikan Sang Timur. Semoga karyamu yang mulia ini menjadi terus harum berjaya dan bercahaya. Hingga terwujud menghantar anak-anak kepada Yesus.

Kepada Sr Xaveria, PIJ kami juga haturkan terima kasih, karena sentuhan kasih secara langsung kepada kami, dalam waktu singkat kami telah dibawa pada jiwa Bunda Clara Fey. Menyelami Mutiara Bunda Clara Fey semoga dapat menguatkan kami guru-guru yang baru saja masuk dalam keluarga Sang Timur. Untuk kami yang sudah melangkah separoh dari perjalanan kami bergabung di Sang Timur, kami tetap dihibur, diberikan pengharapan dan dikuatkan hingga panjang usia kesetiaan kami pada Sang Timur. Untuk kami yang sudah mendapat pengghargaan 25 tahun mengabdi, semoga kami dapat menjadi role model bagi teman-teman kami, menyemangati teman-teman yang masih muda untuk setia pada Sang Timur.
Tangerang, 4 Februari 2024
- TKA 2026 Kelas 9 SMP Katolik Sang Timur Jakarta Berlangsung Tertib dan Lancar
- Menguatkan Panggilan, Mempererat Kebersamaan: Retreat Guru & Karyawan 2026
- Berbagi Takjil Ramadan 2026 oleh SMP Katolik Sang Timur Jakarta di Kebon Jeruk
- Gema Merdeka dalam Irama Budaya, Pensi 2026 SMP Katolik Sang Timur
- 20 Siswa SMP Katolik Sang Timur Jakarta Ukir Prestasi Gemilang di Olimpiade Matematika dan IPA MPK KAJ 2025
- Menjalin Kebersamaan di Bulan Ramadan: SMPK Sang Timur Jakarta Berbagi Takjil di Kebon Jeruk
- Menghayati Sengsara Kristus: SMP Katolik Sang Timur Gelar Jalan Salib di Gereja Maria Bunda Karmel
- Awal Perjalanan Pertobatan di Gereja Maria Bunda Karmel
- SMPK Sang Timur Jakarta dan Puskesmas Kebon Jeruk Gelar Skrining Kesehatan
- Misa Syukur, HUT Kongregasi ke-181, dan Semarak Imlek